Login form

Search

Calendar

«  February 2009  »
SuMoTuWeThFrSa
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Entries archive

Our poll

Bagaimana Layanan Pokdisus Yang Anda Rasakan
Total of answers: 5

News

Main » 2009 » February » 23 » Tetap Survive Meski Mengidap HIV/AIDS
Tetap Survive Meski Mengidap HIV/AIDS
10:05 PM
KAGET, bingung, dan stres kerap mendera seseorang yang baru mengetahui dirinya positif terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Bahkan tidak sedikit yang ingin mengakhiri hidup dengan bunuh diri.
Begitu juga yang dirasakan Alrojak. Pria kelahiran 20 Januari 1954 itu, begitu putus asah ketika 14 tahun lalu diberitahu seorang dokter bahwa dirinya positif terinfeksi virus yang sampai sekarang belum adalah obat penyembuhnya.
“Rasanya tidak karu-karuan,”katanya singkat mengenang masa lalunya yang tidak secerah saat ini. Kepada Tribun, lelaki mengaku cukup lama berada dalam lembah keputusasaan. Untungnya, sebelum divonis, ia telah mengetahui seluk beluk tentang penyakit HIV/AIDS.
“Sebelum saya memeriksakan diri, saya sudah sering ikut aktivitas penanggulangan HIV/AIDS. Sehingga saya tahu bagaimana mengatasinya. Walaupun begitu, perasaan kaget dan putus asa pernah menimpa saya,”ujar Rojak seraya mengaku, sejujurnya ia tidak tahu secara pasti kapan terjangkiti virus HIV.
Namun, kata dokter yang pernah memeriksanya, virus itu sudah bersarang ditubuhnya sejak 14 tahun lalu. “Saya periksa ke dokternya baru dua tahun lalu,”akunya. Bagaimana pria bertinggi 162 cm itu bisa terjangkit? Ia tidak ingin memaparkan secara ditail. Kemungkinan tertularnya dikarenakan pola pergaulan masa lalunya.
Rojak, yang sudah lama tidak lagi didampingi istri dan anaknya, memiliki ketegaran yang luar biasa. Semangat hidupnya tetap tinggi. Baginya, HIV/AIDS bukanlah suatu halangan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Bahkan, penyakit itu ia jadikan motivator hidup untuk lebih giat bekerja.
Setelah mengetahui dirinya menjadi salah satu pengidap HIV/AIDS, semakin memantanpkan Rojak untuk menjadi aktivis memerangi penyebarluasan virus tersebut. Melalui organisasi Gaya Batam, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) HIV/AIDS khusus untuk gay, waria, dan lesbi, secara aktif ia ikut melakukan pencerahan kepada masyarakat agar mengetahui secara jelas apa dan bagaimana HIV/AIDS itu.
Dengan demikian, pencegahan bisa dilakukan setiap individu karena virus itu bisa menyerang siapa saja mulai dari janin dalam kandungan, bayi, balita, remaja, sampai yang sudah uzur. “Bagaimana biar tidak tertular, ya hindarilah berhubungan seks bebas, setialah hanya kepada satu pasangan yang sehat, dan hindari narkoba terutama yang menggunakan jarum suntik,”jelas Rojak.
Dari ratusan ODHA (orang dengan HIV/AIDS) yang ada di Batam, Rojak salah satu yang sangat terbuka kepada masyarakat. Ia tidak merasa malu atau rendah diri dengan kondisinya. Keterbukaannya sebagai satu jawaban untuk menyadarkan masyarakat bahwa ODHA bisa hidup sehat dan berguna sebagaimana orang-orang yang masih dalam kondisi sehat. Meskipun diperkirakan sudah 14 tahun virus HIV hidup di tubuhnya, Rojak tetap terlihat sehat dan bisa bekerja. “Kalau pun sakit, hanya flu dan pusing-pusing karena kecapaian,” ujar pria yang kini menjabat sebagai Manager Kasus di Gaya Batam itu semangat.
Rojak menyadari, penderita HIV/AIDS memang tidak semuanya bisa sesehat dirinya. Tidak sedikit rekannya meregang nyawa karena terlambat ditangani. Dari data Gaya Batam, dalam setahun ini terdapat tiga orang waria yang meninggal karena HIV/AIDS. Sementara sembilan orang masih dalam perawatan dan delapan orang memilih untuk pulang ke kampung halaman. Diatara pengidap HIV/AIDS yang ditangani Gaya Batam, mayoritas adalah waria. Sementara kaum gay-nya tiga orang yang positif. “Kalau gay rata-rata berpendidikan dan sadar akan bahaya HIV/AIDS. Dan mereka selalu memeriksakan diri. Tapi kalau waria, karena tuntutan kebutuhan ekonomi yang penting mereka mendapatkan duit sehingga kadang-kadang tidak peduli kesehatan. Tahu-tahu mereka sudah dalam kondisi kronis,”papar Rojak.
HIV/AIDS bukanlah penyakit yang menakutkan seperti yang dibanyangkan banyak orang selama ini. ODHA masih bisa bekerja seperti biasa dalam waktu yang lama, seperti yang dialami Rozak. Dengan mengkonsumsi ARV (Anti Retriviral), obat yang menghambat perkembangbiakan virus HIV dalam tubuh, seorang ODHA bisa bertahan hidup layaknya orang sehat.
Selama dua tahun mengkonsumsi ARV, CD4 (ketahanan tubuh)nya yang sebelumnya sangat rendah hanya 40 (manusia normal 1200), kini telah bertambah menjadi 200. Rojak bertekad menyadarkan masyarakat bahwa ODHA bukanlah orang yang menakutkan. Banyak keuntungan yang ia dapat dengan membuka diri. Undangan menjadi nara sumber berbagai media dan pertemuan di seluruh Indonesia acap kali singgah ke dirinya.
Ia yang tidak pernah bermimpi bisa keliling Indonesia, akhirnya bisa menjelajah. “Sejak tahu saya HIV positif, saya semakin giat dan lebih memaknai hidup. Saya berjanji pada diri saya sendiri, saya tidak akan menularkan virus ini kepada orang lain,”tekad Rozak (sri murni)

Yang Beri Kena AIDS Juga Tidak…
* Bagikan 3.000 Pita
* Peringatan Hari Aids se-Dunia

RAUT wajah Roma (bukan nama sebenarnya) langsung bete ketika seorang petugas polisi yang diberinya pita merah, sebagai tanda kepedulian terhadap HIV/AIDS, menanyakan,”Yang beri kena AIDS juga tak?”.
Mendengar pertanyaan itu, Roma mengetahui dirinya berstatus HIV positif langsung terdiam. Melihat rekannya merasa sedikit shok, seorang rekan Roma yang berdiri di sampingnya buru-buru menjawab “Ya nggaklah Pak.” Ia pun langsung memasangkan pita merah kepada petugas di persimpangan lampu merah Lippo Bank, Nagoya itu.
“Dia mau gak ya terima pita merah ini kalau saya bilang saya kena HIV?”tanya Roma kepada rekan wanitanya.
Apa yang dilakukan oknum petugas itu, bagi Roma merupakan bentuk diskriminasi yang kerap dilakukan warga kepada para ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Padahal, ungkap Roma pada Tribun yang menemuinya di lampu merah Lippo Bank Nagoya, Jumat (1/12), jika ia terima pita merah dari seorang ODHA apakah lantas ia akan tertular HIV juga.
“Perlakuan seperti itu memang sudah biasa. Ternyata sampai sekarang masih banyak orang yang menganggap ODHA tidak layak hidup bersama masyarakat,”ujar Roma lagi.
Apa yang dilakukan Roma dan kawan-kawan aktivis HIV/AIDS kemarin, merupakan bentuk peringatan Hari AIDS se-Dunia yang jatuh setiap tanggal 1 Desember. Di Batam, perayaan hari AIDS tersebut dilakukan dengan membagi-bagikan pita merah dan brosur yang berisikan tentang HIV/AIDS.
Pembagian pita merah dan brosur dilakukan oleh dua LSM yakni Batam Plus, sebuah organisasi kelompok dukungan sebaya, dan LSM Yayasan Pembinaan Asuhan Bunda (YPAB). Para aktivis tidak sekedar membagikan pita, tapi sekaligus menyematkannya kepada masyarakat yang kebetulang melintas di persimpangan lampu merah Lippo Bank, Simpang Jam, dan pusat perbelanjaan Nagoya Hill Mall.
Sebanyak 3000 pita dan ribuan brosur dibagikan kepada masyarakat. Jika masyarakat di negara lain membagikan pita berwarna merah, tapi khusus di Indonesia, pita tidaklah berwarna merah melainkan merah putih. “Warna pita merah putih memang khusus di Indonesia. Maknanya sama dengan pita merah di negara-negara lain yakni sebagai wujud kepedulian terhadap HIV/AIDS). (nix)

Views: 807 | Added by: pokdisus | Rating: 0.0/0 |
Total comments: 0
Only registered users can add comments.
[ Registration | Login ]